Bertemu Temen Lama Saat Masih Sekolah

x
0

Bertemu Temen Lama Saat Masih Sekolah | Berhubungan Dengan Semangat Reuni

Bertemu Temen Lama Saat Masih Sekolah | Berhubungan Dengan Semangat Reuni

Malam itu hujan gerimis tipis, cuma cukup buat bikin jalanan Jakarta agak licin dan bau tanah basah. Aku mampir ke minimarket dekat rumah cuma buat beli rokok sama air mineral, nggak ada niat apa-apa. Begitu masuk, mataku langsung nyangkut di kasir yang lagi nyanyi pelan sambil nyusun struk.

Ninda.

Rambutnya yang dulu pendek lurus sekarang panjang sebahu, dicat cokelat tua, tapi senyumnya sama persis seperti waktu kelas 3 SMP dulu—sedikit miring ke kiri, bikin lesung pipitnya kelihatan jelas. Dia ngeliat aku juga, matanya membesar sesaat sebelum akhirnya tertawa kecil.

“Seriusan lo, Dam? Masih hidup?” katanya sambil nyodorin tangan buat tos.

Aku ketawa, balas tosnya. “Masih, Nin. Lo juga ternyata nggak ilang ditelan bumi.”

Kami ngobrol sebentar di depan kasir, cuma lima menit, tapi rasanya kayak balik ke kantin sekolah dulu. Dia cerita singkat kalau sekarang kerja shift malam di sini, sambil nanya-nanya aku kerja apa, masih di Jakarta, dan seterusnya. Pas aku mau bayar, dia ngasih diskon kecil sambil kedip mata. “Temen lama dapat privilege,” katanya.

Sebelum aku keluar, aku nanya, “Shift lo jam berapa selesai?”

“Jam 11. Kenapa, mau jemput?” jawabnya setengah bercanda.

“Ya mau dong,” balasku spontan. “Kita ngopi atau makan dulu, lama nggak ketemu.”

Dia diam sebentar, ngeliat jam di dinding, lalu mengangguk pelan. “Oke. Tunggu di parkiran ya. Jangan kabur.”

Jam 11 lewat sepuluh menit, Ninda keluar sambil bawa tas selempang kecil dan jaket jeans yang agak kebesaran. Rambutnya dilepas dari ikatan ponytail tadi, jadi kelihatan lebih lepas. Aku nyalain motor, dia naik ke boncengan tanpa ragu, tangannya langsung melingkar di pinggangku—cara pegangan yang biasa, tapi malam itu rasanya beda.

Aku bawa dia ke warung sate taichan dekat Thamrin yang masih buka sampai subuh. Kami duduk di bangku kayu panjang, pesen porsi banyak, plus es teh manis dua gelas gede. Obrolan mengalir santai. Dia cerita tentang hidupnya setelah SMP—pindah kota, kuliah D3, kerja kantoran sebentar, lalu nikah. Aku cuma dengerin sambil sesekali nyengir kalau dia ngomongin kebiasaan burukku dulu yang masih sama sampai sekarang.

“Lo masih suka nyanyi fals pas lagi mabuk, ya?” tanyanya sambil ketawa.

“Masih. Tapi sekarang cuma di kamar mandi,” jawabku.

Dia tertawa lepas, kepalanya hampir nyender di bahuku. Bau parfumnya yang manis bercampur bau asap sate masuk ke hidung. Aku sadar jantungku mulai berdetak lebih kencang.

Pas udah selesai makan, dia tiba-tiba diam. Matanya menatap lurus ke gelas es teh yang tinggal es batu doang. “Dam,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Lo… masih single kan?”

“Iya. Kenapa?”

Dia menghela napas pendek. “Aku… lagi pengen lupa sejenak. Suamiku lembur sampe besok pagi. Anakku dititipin ke mama. Aku… nggak mau pulang dulu ke rumah.”

Aku nggak langsung jawab. Cuma ngeliatin dia. Matanya basah sedikit, tapi bukan nangis—lebih ke ekspresi orang yang lagi capek banget sama rutinitas.

“Ke mana?” tanyaku akhirnya.

Dia menoleh, senyum tipis. “Hotel aja. Yang deket sini. Lo mau nemenin aku malam ini?”

Aku cuma mengangguk. Nggak perlu banyak kata.



Kami masuk ke kamar hotel bintang tiga yang lumayan bersih, tipe yang biasa dipake buat istirahat singkat. Lampu remang-remang, AC dingin, kasur king size dengan seprai putih. Begitu pintu ditutup, suasana langsung berubah.

Ninda meletakkan tasnya di meja, lalu membalikkan badan menghadap aku. Tanpa bicara, dia maju selangkah, tangannya naik ke leherku, dan kami berciuman. Ciuman pertama masih ragu, tapi detik berikutnya sudah ganas. Bibirnya lembut, lidahnya hangat, dan napasnya cepat. Aku balas dengan sama semangatnya, tanganku merayap ke pinggangnya, menarik tubuhnya lebih dekat.

Baju kasirnya yang seragam biru muda dilepas perlahan. Bra hitam renda tipis terlihat, kontras sama kulitnya yang putih susu. Aku mencium lehernya, turun ke tulang selangka, sambil tanganku membuka kait bra dari belakang. Dia mendesah pelan waktu payudaranya terbebas—penuh, kencang, putingnya sudah mengeras.

“Dam… pelan dulu,” bisiknya, tapi tangannya malah menarik kausku ke atas.

Kami telanjang dalam hitungan menit. Tubuhnya lebih berisi dibanding waktu SMP dulu, ada lekuk pinggul dan perut yang sedikit membulat—tanda dia pernah melahirkan. Tapi justru itu yang bikin aku semakin terangsang. Aku membaringkannya di kasur, mencium dari bibir turun ke dada, mengisap putingnya bergantian sampai dia menggelinjang dan mengerang keras.

“Masukin, Dam… aku udah basah banget,” katanya dengan suara serak.

Aku nggak menunggu lagi. Aku memosisikan diri di antara pahanya, menggesekkan kepala penis ke bibir vaginanya yang sudah licin. Dia mengangguk cepat, tangannya mencengkeram bahuku. Aku mendorong perlahan, merasakan dinding vaginanya yang hangat dan ketat membungkusku. Kami berdua sama-sama mendesah panjang waktu akhirnya aku masuk sepenuhnya.

Gerakan pertama pelan, cuma goyangan kecil supaya dia terbiasa. Tapi Ninda nggak sabar. Pinggulnya naik menyambut setiap dorongan, tangannya mencakar punggungku. Lama-lama ritmenya makin cepat, kasur berderit keras mengikuti irama kami.

“Aku… mau di atas,” pintanya tiba-tiba.

Kami balik posisi. Dia naik ke pangkuanku, memandu penis aku masuk lagi, lalu mulai menggoyang pinggulnya maju mundur. Payudaranya bergoyang di depan mataku, aku menangkap keduanya, meremas sambil ibu jari memilin putingnya. Ninda menjerit kecil setiap aku dorong pinggul ke atas, menyetubuhi dia lebih dalam.

“Dam… aku mau keluar… ahh… jangan berhenti…” suaranya putus-putus.

Aku mempercepat dorongan, tangan kiriku turun ke klitorisnya, menggosok lingkaran kecil dengan cepat. Tubuhnya menegang, pahanya bergetar hebat, lalu dia orgasme dengan jeritan tertahan. Vaginanya berkedut kuat di sekitar penis aku, menekan sampai aku hampir ikut keluar.

Tapi aku tahan. Aku membalikkan tubuhnya, menyuruh dia berlutut di kasur. Dari belakang aku masuk lagi, kali ini lebih dalam. Suara benturan kulit ke kulit bercampur desahan dan erangan kami memenuhi kamar. Aku mencengkeram pinggulnya, menarik dan mendorong dengan ritme cepat.

“Nin… aku mau keluar…” kataku dengan napas tersengal.

“Di dalam aja… aman… keluarin semua…” jawabnya cepat.



Beberapa dorongan lagi, aku mencapai puncak. Tubuhku menegang, penis aku berdenyut keras di dalam vaginanya, menyemprotkan cairan hangat berulang-ulang. Ninda mengerang pelan merasakan setiap denyutan itu, pinggulnya masih bergoyang kecil mencari sisa kenikmatan.

Kami ambruk berdua di kasur, napas masih ngos-ngosan. Keringat membasahi kulit kami. Dia memelukku dari samping, kepalanya bersandar di dada aku.

“Terima kasih, Dam,” bisiknya. “Malam ini… aku butuh banget.”

Aku cuma mengelus rambutnya, nggak bilang apa-apa. Di luar jendela, hujan masih gerimis. Jam di dinding menunjukkan pukul 03:12.

Kami tahu ini cuma satu malam. Besok dia akan balik jadi istri dan ibu. Aku akan balik ke rutinitas biasa. Tapi malam itu, di kamar hotel bau AC dan nafsu, kami saling memberi pelarian yang sama-sama kami butuhkan.

Dan itu cukup.

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)