Berteman Dengan Lina Istri Tetangga | Berbagi Kenikmatan Tanpa Batas
Aku masih ingat pertama kali aku bertemu Lina. Saat itu, aku baru pindah ke kompleks perumahan yang tenang di pinggiran kota, tempat di mana tetangga-tetangga masih saling sapa pagi hari. Rumahku tepat di sebelah rumahnya, dan suaminya, yang namanya Budi, adalah tipe orang yang sibuk kerja dari pagi sampai malam. Lina sendiri kelihatan seperti istri rumah tangga biasa—umur sekitar 30-an, rambut panjang hitam yang sering diikat asal, dan senyum ramah yang bikin orang nyaman. Aku? Aku cuma cowok biasa, single, kerja freelance dari rumah, jadi punya banyak waktu luang.
Awalnya, kami cuma saling tegur sapa lewat pagar. "Pagi, Mas," katanya suatu hari sambil nyiram tanaman. Aku balas dengan senyum dan "Pagi juga, Mbak." Gitu aja, nggak lebih. Tapi semuanya berubah pas suatu sore hujan deras. Pintu rumahku diketuk, dan di depan sana ada Lina, basah kuyup, bawa payung yang udah rusak. "Maaf ganggu, Mas. Boleh pinjam uang nggak? Suami lagi di luar kota, dan aku butuh beli obat buat anak yang lagi sakit. Besok langsung kembalikan," katanya dengan nada malu-malu.
Aku nggak mikir dua kali. "Ya sudah, Mbak. Berapa?" Aku kasih dia uang yang dia butuhin, dan besoknya dia balikin tepat waktu, bahkan bawa kue buatan sendiri sebagai ucapan terima kasih. Dari situ, kami mulai ngobrol lebih sering. Awalnya cuma soal cuaca, tetangga gosip, atau resep masak. Lama-lama, jadi curhat. Lina cerita suaminya jarang di rumah, kerja sebagai sales yang bolak-balik keluar kota. Anak mereka satu-satunya sering ditinggal sama babysitter, dan dia merasa kesepian. Aku dengerin aja, sambil kasih saran santai. "Mbak Lina harus cari hobi baru deh, biar nggak bosen," kataku suatu hari sambil minum kopi di teras rumahku.
Hubungan kami makin akrab. Lina sering mampir ke rumahku pinjam barang—mulai dari gula, minyak, sampe buku bacaan. Aku juga suka bantu dia angkat barang belanjaan atau perbaikin keran bocor di rumahnya. Suaminya nggak curiga, karena dia jarang pulang tepat waktu. Satu hari, pas Budi lagi dinas luar kota selama seminggu, Lina datang lagi ke rumahku. "Mas, bisa pinjam uang lagi nggak? Cuma buat bayar tagihan listrik. Suami lupa transfer," katanya. Aku kasih lagi, tapi kali ini aku bilang, "Mbak, kalau sering gini, nanti gimana? Kalau butuh bantuan lain, bilang aja."
Dia tersenyum, tapi matanya kelihatan sedih. "Terima kasih, Mas. Kamu baik banget. Suami aku... ya gitu lah, sibuk terus." Dari situ, obrolan kami jadi lebih dalam. Kami duduk di ruang tamu rumahku, hujan di luar masih deras. Lina cerita betapa dia merasa diabaikan, tubuhnya yang dulu cantik sekarang kayak nggak dihargai lagi. Aku cuma bisa dengerin, tapi entah kenapa, ada getar aneh di dada. Dia cantik, ya. Kulitnya putih mulus, tubuhnya ramping dengan lekuk yang pas. Aku nggak nyangka, pas dia peluk aku sebagai ucapan terima kasih, rasanya beda. Hangat, dan... menggoda.
Beberapa hari kemudian, giliran aku yang mampir ke rumahnya. Budi lagi kerja, anaknya lagi tidur siang. Lina lagi masak di dapur, pakai daster tipis yang bikin siluet tubuhnya kelihatan jelas. Kami ngobrol sambil dia nyuci piring. "Mas, kamu single ya? Kok nggak punya pacar?" tanyanya tiba-tiba. Aku ketawa. "Belum nemu yang cocok, Mbak." Dia berbalik, matanya menatapku lama. "Kalau aku single, mungkin aku suka sama orang kayak kamu," katanya pelan.
Suasana langsung tegang. Aku mendekat, tanganku pegang pinggangnya. Dia nggak nolak. Malah, dia balik badan dan cium aku. Bibirnya lembut, hangat, penuh hasrat yang kayaknya udah lama dipendam. Kami berciuman di dapur, tanganku merayap ke dada nya yang montok di balik daster. "Mbak... ini salah," bisikku, tapi dia jawab, "Sst... jangan mikir. Aku butuh ini." Kami pindah ke kamar tidur, rumah sepi cuma suara hujan di luar.
Aku lepasin daster nya pelan-pelan, tubuhnya telanjang di depan mataku. Payudaranya besar dan kenyal, putingnya mengeras pas aku sentuh. Lina mendesah pelan pas aku cium lehernya, turun ke dada, hisap putingnya bergantian. Tangannya pegang rambutku, tarik aku lebih dekat. "Mas... lanjut," katanya. Aku turun lebih bawah, lidahku main di pusarnya, lalu ke selangkangannya yang sudah basah. Aku jilat klitorisnya pelan, dia menggelinjang, tangannya pegang kepalaku. "Ah... enak, Mas..." desahnya.
Aku nggak tahan lagi. Aku lepas celanaku, kontolku udah tegang keras. Lina pegang itu, gosok pelan sambil senyum nakal. "Besar ya," katanya. Aku dorong dia telentang, masukin pelan ke dalam vaginanya yang sempit dan basah. Kami bergerak bareng, ritme pelan dulu, lalu makin cepat. Lina goyang pinggulnya, desahannya makin kencang. "Lebih dalam, Mas... ah!" Aku pompa lebih kuat, tanganku remas pantatnya. Kami orgasme bareng, badannya bergetar, cairannya basahin seprai.
Setelah itu, kami berbaring sebentar, napas masih ngos-ngosan. "Jangan bilang siapa-siapa ya," katanya. Aku angguk. Tapi itu cuma awal. Sejak saat itu, kami sering nyuri waktu. Budi kerja pagi, Lina kirim pesan: "Rumah kosong." Aku langsung mampir. Kadang di pagi hari, pas anaknya sekolah. Kami seks di sofa ruang tamu, cepat tapi panas. Aku angkat kakinya tinggi, masukin dari belakang, sambil pegang pinggulnya. Dia suka gaya doggy, katanya bikin lebih dalam.
Lain waktu, malam hari pas Budi lembur. Lina datang ke rumahku diam-diam, pakai lingerie hitam yang seksi. Kami main di kamar mandi, air shower nyala, tubuh kami basah dan licin. Aku tekan dia ke dinding, masukin sambil cium bibirnya. "Kamu bikin aku ketagihan, Mas," katanya di antara desahan. Aku jawab, "Sama, Mbak. Tubuhmu enak banget."
Semakin sering, semakin berani. Suatu hari, di garasi rumahnya, pas Budi lagi telpon dari kantor. Kami seks cepat, dia jongkok hisap kontolku dulu, lidahnya muter-muter di kepala. Lalu aku angkat dia, sandarkan ke mobil, masukin berdiri. Risikonya tinggi, tapi itu yang bikin seru. Kami hampir ketahuan sekali, pas Budi pulang mendadak. Lina buru-buru beresin, aku lompat pagar belakang.
Hubungan ini berlanjut berbulan-bulan. Lina bilang dia bahagia lagi, merasa diinginkan. Aku juga, rasanya hidup lebih berwarna. Tapi kami tahu ini nggak bisa selamanya. Suatu hari, Budi tawarin pekerjaan di luar kota, dan Lina ikut pindah. Sebelum pergi, kami seks terakhir di rumahku, panjang dan penuh emosi. "Terima kasih, Mas. Kamu bikin aku hidup lagi," katanya sambil nangis. Aku peluk dia, "Sama-sama, Mbak. Hati-hati di sana."
Sekarang, rumah sebelah kosong. Aku masih ingat Lina, senyumnya, tubuhnya, dan semua momen curian itu. Hidup memang aneh, ya? Kadang, yang salah justru yang bikin kita merasa hidup.